
Empat langkah yang menuntun Sukma Rasa, dari warung bakso di Labuapi hingga enam cabang di Lombok
Banyak merek kuliner dikenal dari menunya. Namun, sebagian kecil dikenal dari sesuatu yang lebih dalam, yaitu arah yang dipegang setiap hari. Filosofi merek Sukma Rasa termasuk yang kedua. Selain itu, ia dirumuskan dalam empat langkah yang dikenal sebagai Brand Philosophy 4P, dan menjadi pegangan bagi seluruh insan Sukma Rasa.
Sebenarnya, dalam buku panduan strategi Sukma Rasa, filosofi ini tidak berdiri sebagai slogan di dinding. Ia mengalir dari perjalanan pendirinya, Asmuni, yang memulai usaha di Labuapi pada 2010. Oleh karena itu, memahami filosofi ini berarti memahami mengapa Sukma Rasa tumbuh seperti sekarang.
Perjalanan di Balik Filosofi Merek Sukma Rasa
Sebelum membahas empat langkahnya, ada baiknya melihat dari mana filosofi itu berasal. Pada 2004, Asmuni berangkat ke Korea Selatan sebagai Pekerja Migran Indonesia. Menurut kisah resmi Sukma Rasa, di sana ia belajar kedisiplinan, etos kerja, dan dasar-dasar manajemen bisnis. Selain itu, ia juga belajar bahwa harta hanya bermakna ketika dibagi.
Pada 2010, ia memulai usaha cuci motor dan warung bakso di Labuapi. Menunya mengandalkan sambal khas Sasak dan resep turun-temurun. Kemudian, tiga tahun berselang, warung itu terbakar. Namun, Asmuni bangkit bersama keluarga dan komunitas, dengan keyakinan bahwa setiap musibah menyimpan hikmah.
Selanjutnya, pada 2015, cabang kedua berdiri. Setelah itu, pada 2020, Sukma Rasa telah memiliki enam cabang. Sementara itu, pada 2022, Asmuni menerima Indonesian Migrant Worker Awards (IMWA) kategori Wirausaha Purna PMI dari Menteri Ketenagakerjaan RI. Dengan demikian, rangkaian inilah yang menjadi latar bagi filosofi merek Sukma Rasa.
Empat Langkah Brand Philosophy 4P
Brand Philosophy 4P terdiri dari empat langkah yang berurutan.
- Preserve the Roots — menjaga akar resep dan tradisi.
- Present the Heritage — menghadirkan warisan itu dalam pengalaman bersantap masa kini.
- Promote the Story — memperkenalkan kekayaan kuliner Lombok kepada wisatawan dan dunia.
- Prosper the Community — memastikan pertumbuhan Sukma Rasa turut menghidupkan petani, nelayan, UMKM, karyawan, serta purna PMI di sekitarnya.
Urutan ini patut diperhatikan. Sebab, akar dijaga terlebih dahulu. Setelah itu, warisan dihadirkan, diperkenalkan, dan manfaatnya dibagikan. Dengan kata lain, pertumbuhan tidak dimaksudkan untuk mengorbankan akar.
Preserve the Roots: Resep yang Sama sejak Hari Pertama
Langkah pertama paling mudah ditemukan jejaknya. Misalnya, kisah resmi Sukma Rasa menyebut cita rasa asli Sasak disajikan dengan resep yang sama sejak hari pertama. Sambal khas Sasak dan resep turun-temurun yang menopang warung bakso pada 2010 adalah bagian dari akar itu. Selain itu, lima pilar heritage Sukma Rasa menegaskan arah yang sama. Pilar Heritage of Taste melestarikan cita rasa asli Lombok. Sementara itu, pilar Heritage of Legacy mewariskan nilai ini kepada generasi berikutnya.
Present the Heritage: Warisan yang Hadir di Setiap Cabang
Langkah kedua menjawab pertanyaan sederhana: bagaimana warisan dirasakan pelanggan hari ini? Jawabannya ada pada pengalaman bersantap di enam cabang. Masing-masing memiliki suasana tersendiri, mulai dari Bakso Bebalung Labuapi yang buka 24 jam hingga Lesehan Loang Baloq dengan pemandangan pantai.
Selain itu, di setiap outlet, signage bertema merah-kuning, seragam staf, dan tata interior khas Sasak dihadirkan secara seragam. Pilar Heritage of Culture menjaga arsitektur dan bahasa lokal tetap hidup. Adapun pilar Heritage of Hospitality menjunjung keramahan khas Sasak. Dengan demikian, pelanggan tidak hanya makan, tetapi juga mengenal budaya Sasak secara langsung.
Promote the Story: Memperkenalkan Kuliner Lombok
Langkah ketiga menyangkut cerita. Oleh karena itu, Sukma Rasa ingin memperkenalkan kekayaan kuliner Lombok kepada wisatawan dan dunia. Pada 2020, cabang-cabangnya telah tersebar di jalur wisata utama Lombok, sehingga wisatawan dapat menjumpainya dalam perjalanan mereka.
Selanjutnya, Sukma Rasa juga memosisikan diri sebagai "The Heritage of Lombok". Adapun cita-cita besarnya, menurut buku panduan strategi, adalah menjadi ikon warisan kuliner Lombok di tingkat nasional hingga internasional.
Prosper the Community: Tumbuh Bersama Orang Sekitar
Langkah keempat mungkin paling erat dengan perjalanan hidup Asmuni. Sebagai purna PMI, Asmuni mengalami sendiri perjalanan pulang merantau. Dalam semangat itu, Sukma Rasa menyebut dirinya rumah kedua bagi purna PMI, tempat mereka mendapat keluarga baru. Wujudnya terlihat dalam empat program pemberdayaan:
- Pelatihan Kerja Profesional, dengan pelatihan bersertifikat bagi staf.
- Pembinaan Spiritual ESQ, berupa kajian rutin berbasis nilai Islam.
- Kesejahteraan Keluarga, melalui bantuan pendidikan anak staf dan santunan.
- Karir dan Jenjang, yang membuka jalur dari staf hingga manajer cabang berdasarkan kinerja.
Di samping itu, pilar Heritage of Community mengutamakan bahan lokal dan memberdayakan UMKM sekitar. Dengan begitu, manfaat pertumbuhan Sukma Rasa menjangkau lebih dari satu kelompok.
Filosofi yang Menyatu dengan Slogan
Slogan resmi Sukma Rasa berbunyi, "SukmaRasa Melayani Karna Cinta." Slogan itu dapat dibaca bersama keempat langkah di atas. Misalnya, menjaga akar, menghadirkan warisan, memperkenalkan cerita, dan menumbuhkan komunitas semuanya dilakukan dengan semangat melayani. Pembacaan ini adalah tafsir penulis atas kerangka merek Sukma Rasa.
Sementara itu, dalam menata nilai dan strategi tersebut, Sukma Rasa mendapat pendampingan dari Coach Dr. Fahmi selaku corporate coach.
Kesimpulan
Pada akhirnya, filosofi merek Sukma Rasa menunjukkan bahwa pertumbuhan dan akar dapat berjalan beriringan. Dari warung bakso di Labuapi, Sukma Rasa menjaga resep yang sama dan menghadirkannya di enam cabang. Sukma Rasa juga memperkenalkannya kepada wisatawan dan membagikan manfaatnya kepada orang sekitar. Oleh karena itu, untuk merasakannya langsung, kunjungi cabang Sukma Rasa terdekat di Lombok atau laman resmi sukmarasalombok.com.













