
Dari warung bakso di Labuapi hingga enam cabang, kepemimpinan Asmuni paling jelas terbaca pada satu hal: seberapa jauh orang di sekitarnya ikut tumbuh.
"Sukma Rasa Melayani Karna Cinta."
Kalimat itu adalah slogan resmi Sukma Rasa. Bila dibaca bersama perjalanan pendirinya, Asmuni, slogan tersebut terdengar lebih dari sekadar kata-kata pemasaran. Ia menjadi pernyataan tentang cara memimpin: hadir untuk melayani, dan melihat keberhasilan dari orang-orang yang ikut bertumbuh.
Kisah Asmuni biasanya diceritakan sebagai kisah jatuh-bangun, dari pekerja migran di Korea Selatan, pemilik warung yang terbakar, hingga pemilik enam cabang rumah makan. Kisah itu memang layak dikenang. Namun, ada pertanyaan lain yang tak kalah menarik: bagaimana nilai-nilai Sukma Rasa terlihat dalam cara Asmuni memimpin?
Bekal dari Perantauan
Pada 2004, Asmuni berangkat ke Korea Selatan sebagai Pekerja Migran Indonesia, dengan tekad kuat dan doa keluarga. Menurut kisah resmi Sukma Rasa, di sana ia belajar kedisiplinan, etos kerja, dan dasar-dasar manajemen bisnis. Satu pelajaran lain yang disebut menonjol adalah tentang keberkahan rezeki: harta hanya bermakna ketika dibagi.
Pelajaran itu terasa dekat dengan dua prinsip dalam nilai korporat SUKMA RASA, yaitu Share the Goodness dan Always Grateful. Pengalaman tersebut juga memberinya sudut pandang yang tidak dimiliki banyak pemilik usaha. Ia pernah berada di sisi pekerja, jauh dari rumah, bergantung pada pekerjaan untuk menghidupi keluarga.
Memulai dari yang Bersahaja
Pada 2010, Asmuni memulai usaha dari skala yang sangat sederhana, yaitu usaha cuci motor dan warung bakso di Labuapi. Menunya mengandalkan sambal khas Sasak dan resep turun-temurun. Tidak ada modal besar yang ditunggu terlebih dahulu.
Sikap ini sejalan dengan Serve with Sincerity dalam nilai SUKMA RASA. Pelayanan dimulai dari apa yang ada, dengan ketulusan, dan dari sanalah kepercayaan pelanggan tumbuh perlahan.
Ketika Semuanya Terbakar
Pada 2012, warung itu terbakar. Kisah resmi menceritakan bahwa Asmuni bangkit bersama keluarga dan komunitas, dengan keyakinan bahwa setiap musibah menyimpan hikmah. Dua tahun kemudian, pada 2015, cabang kedua berdiri.
Perhatikan kata "bersama". Pemulihan itu tidak digambarkan sebagai perjuangan seorang diri. Prinsip Keep Moving Forward dan Respect Every Journey tampak di sini: terus melangkah, sambil menghargai perjalanan setiap orang yang ikut menopang.
Empat Cara Menumbuhkan Orang
Bagian yang paling jelas memperlihatkan kepemimpinan Asmuni adalah program pemberdayaan karyawan. Sukma Rasa merancang empat program, yang dapat dibaca sebagai empat sisi pertumbuhan seseorang:
- Pelatihan Kerja Profesional — menumbuhkan kecakapan. Staf mendapat pelatihan bersertifikat.
- Pembinaan Spiritual ESQ — menumbuhkan sisi batin, melalui kajian rutin berbasis nilai Islam.
- Kesejahteraan Keluarga — menumbuhkan rasa aman, lewat bantuan pendidikan anak staf dan santunan.
- Karir dan Jenjang — menumbuhkan arah masa depan. Jalurnya terbuka dari staf hingga manajer cabang berdasarkan kinerja.
Pemetaan ke empat sisi pertumbuhan ini adalah tafsir penulis, tetapi isi keempat programnya bersumber dari situs resmi Sukma Rasa. Program-program tersebut tidak berhenti pada penghasilan. Orang dibantu menjadi lebih cakap, lebih kuat batinnya, lebih tenang keluarganya, dan lebih jelas jenjangnya.
Semangat ini juga sejalan dengan nilai kepribadian CINTA, terutama Care dan Never Stop Learning, serta nilai layanan HEART SERVICE, terutama Humility dan Empathy. Nilai-nilai itu bukan hanya dipakai staf untuk melayani pelanggan, tetapi juga tercermin dalam cara perusahaan memperlakukan stafnya.
Rumah Kedua bagi Purna PMI
Sukma Rasa menyebut dirinya sebagai rumah kedua bagi purna PMI, tempat mereka mendapat keluarga baru. Mayoritas staf di cabang-cabangnya adalah purna PMI dan warga sekitar. Situs resminya bahkan menyebut dukungan bagi ratusan purna PMI.Inilah wujud nyata filosofi Prosper the Community, salah satu dari empat pilar Brand Philosophy Sukma Rasa. Pertumbuhan usaha dimaksudkan untuk menghidupkan orang-orang di sekitarnya, termasuk karyawan dan purna PMI.
Pada 2022, kerja itu mendapat pengakuan tingkat nasional. Asmuni menerima Indonesian Migrant Worker Awards (IMWA) kategori Wirausaha Purna PMI dari Menteri Ketenagakerjaan RI, atas dedikasinya menciptakan lapangan kerja dan memberdayakan purna PMI. Menarik bahwa dasar penghargaannya bukan semata omzet atau jumlah cabang, melainkan dampaknya bagi orang lain.
Tiga Pelajaran dari Perjalanan Asmuni
Dari jejak tersebut, ada tiga pelajaran yang dapat dipetik para pemilik usaha dan pemimpin tim.
- Mulailah dari yang ada. Skala kecil bukan alasan untuk menunda. Usaha yang besar dapat bermula dari warung sederhana dengan resep yang dijaga.
- Bangkit bersama. Krisis lebih mudah dilalui ketika keluarga, tim, dan komunitas dilibatkan, bukan ditinggalkan di luar.
- Ukur keberhasilan dari orang yang tumbuh. Pertanyaan yang layak diajukan setiap pemimpin bukan hanya "berapa laba bulan ini?", melainkan juga "siapa yang bertumbuh karena saya memimpin?"
Menjaga Warisan Melalui Penataan
Seiring berkembangnya usaha, kearifan yang dijalankan secara alami perlu ditata lebih sistematis. Pada tahap ini, Sukma Rasa mendapat pendampingan dari Coach Dr. Fahmi selaku corporate coach, yang membantu merumuskan nilai dan strategi merek perusahaan.
Penutup
Pada akhirnya, kekuatan Asmuni tidak terletak pada gelar atau jumlah cabang. Ia terletak pada keselarasan antara apa yang dikatakan dan apa yang dijalankan. Slogan "Melayani Karna Cinta" menemukan buktinya pada program yang membuka jalan bagi sesama purna PMI. Dari warung bakso di Labuapi, Asmuni menunjukkan bahwa memimpin dengan melayani membuat sebuah usaha bertumbuh bersama orang-orangnya.













