13 Oktober 2026 6:15 pm

Warisan Kuliner Sasak: Cara Asmuni Menjaga Rasa Lombok

Warisan Kuliner Sasak: Cara Asmuni Menjaga Rasa Lombok
Resep yang sama sejak hari pertama, keramahan khas Sasak, dan cita-cita menjadikan Sukma Rasa ikon kuliner Lombok.

"Resep yang sama sejak hari pertama."

Kalimat itu tercantum dalam kisah resmi Sukma Rasa. Namun, di tengah dunia kuliner yang cepat berubah, pernyataan tersebut menarik karena justru berpegang pada hal yang tidak berubah. Oleh karena itu, bagi Asmuni, warisan kuliner Sasak bukan sesuatu yang diganti demi mengikuti selera zaman, melainkan sesuatu yang dijaga dan dihadirkan dengan cara yang layak.

Dua profil sebelumnya menelusuri perjalanan hidup dan cara Asmuni memimpin. Selanjutnya, sorotan diarahkan pada apa yang ia jaga sepanjang perjalanan itu, yaitu rasa dan warisan yang melekat padanya.

Resep Turun-Temurun dan Sambal Khas Sasak

Pada 2010, Asmuni memulai usaha cuci motor dan warung bakso di Labuapi. Menurut kisah resmi, menu warung tersebut mengandalkan sambal khas Sasak dan resep turun-temurun. Dengan demikian, sejak awal bekal utamanya bukan modal besar, melainkan cita rasa yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Bila dibaca bersama kronologi usahanya, resep yang sama itu ikut melewati kebakaran pada 2013, cabang kedua pada 2015, hingga enam cabang pada 2020. Oleh karena itu, konsistensi rasa menjadi benang merah yang menghubungkan setiap babak perjalanan Sukma Rasa.

Empat Langkah Menjaga Warisan: Brand Philosophy 4P

Untuk itu, Sukma Rasa merumuskan cara menjaga warisan itu ke dalam Brand Philosophy 4P.
  • Preserve the Roots — menjaga akar resep dan tradisi.
  • Present the Heritage — menghadirkan warisan itu dalam pengalaman bersantap masa kini.
  • Promote the Story — memperkenalkan kekayaan kuliner Lombok kepada wisatawan dan dunia.
  • Prosper the Community — memastikan pertumbuhan Sukma Rasa turut menghidupkan petani, nelayan, UMKM, karyawan, serta purna PMI di sekitarnya.
Namun, urutannya patut diperhatikan. Warisan dijaga terlebih dahulu, kemudian dihadirkan, diperkenalkan, dan dibagikan manfaatnya. Dengan kata lain, pertumbuhan tidak boleh mengorbankan akar.

Lima Pilar Heritage Sukma Rasa

Selanjutnya, filosofi tersebut tercermin dalam lima pilar heritage yang menjadi identitas Sukma Rasa.
  • Heritage of Taste — melestarikan cita rasa asli Lombok.
  • Heritage of Hospitality — menjunjung keramahan khas Sasak.
  • Heritage of Culture — menjaga arsitektur dan bahasa lokal tetap hidup di setiap outlet.
  • Heritage of Community — mengutamakan bahan lokal dan memberdayakan UMKM sekitar.
  • Heritage of Legacy — mewariskan nilai ini kepada generasi berikutnya.
Selain itu, kelima pilar ini menunjukkan bahwa warisan kuliner Sasak tidak hanya soal rasa di piring. Ia juga mencakup cara menyambut tamu, suasana tempat, hubungan dengan pemasok lokal, hingga nilai yang diteruskan kepada generasi berikutnya.

Satu Warisan Kuliner Sasak di Enam Cabang

Kini, warisan itu hadir di enam cabang. Masing-masing memiliki suasana tersendiri, mulai dari Bakso Bebalung Labuapi yang buka 24 jam hingga Lesehan Loang Baloq dengan pemandangan pantai. Namun, identitasnya tetap seragam. Signage bertema merah-kuning, seragam staf, dan tata interior khas Sasak dihadirkan sama di setiap outlet, sehingga pelanggan mengenali Sukma Rasa di mana pun mereka berkunjung.

Selain itu, pendekatan ini sejalan dengan pilar Heritage of Culture. Sebab, ketika arsitektur dan bahasa lokal hadir di setiap cabang, pelanggan tidak hanya makan, tetapi juga mengenal budaya Sasak secara langsung.

Cita-Cita Besar: Ikon Warisan Kuliner Lombok

Bagi Sukma Rasa, cita-cita besar perusahaan dirumuskan sebagai menjadi ikon warisan kuliner Lombok di tingkat nasional hingga internasional. Selaras dengan itu, Sukma Rasa memosisikan diri sebagai "The Heritage of Lombok".

Cita-cita ini terasa relevan dengan perjalanan pendirinya. Misalnya, pada 2022, Asmuni menerima Indonesian Migrant Worker Awards (IMWA) kategori Wirausaha Purna PMI dari Menteri Ketenagakerjaan RI atas dedikasinya menciptakan lapangan kerja dan memberdayakan purna PMI. Dengan demikian, penghargaan itu mengakui dampak sosialnya. Adapun cita-cita menjadi ikon kuliner menunjukkan bahwa langkah berikutnya diarahkan pada warisan rasa yang lebih luas jangkauannya.

Penutup

Pada akhirnya, kisah Asmuni mengajarkan bahwa warisan kuliner Sasak bertahan bukan karena dipajang, melainkan karena dijalankan setiap hari: resep yang dijaga, tamu yang disambut dengan ramah, dan komunitas yang ikut tumbuh. Dari warung bakso di Labuapi, ia menunjukkan bahwa menjaga akar justru menjadi cara terbaik untuk bertumbuh.

Blog Post Lainnya
Alamat
0813 5888 1957 | 0856 4673 2123
eventgroundedgroup@gmail.com
Gedung Scale Up Centre: Jl. Bendungan Sigura-gura No. 42-44, Malang
Partners
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Social Media
@2026 Grounded Event Inc.